Sastra Maya, Mana Tanggung Jawabmu? Bandung. Di belakang meja dua kali satu, di sebelah ruang tempat Soekarno pernah membacakan pledoi, petang itu saya menyempatkan diri berbincang dengan dua wanita - yang karena sebuah rezim - suami-suami mereka terpaksa harus membayar lunas sebuah konsekuensi: mati! Saat itu gerimis. Suciwati, istri Alm. Munir, dan Yu Pon, istri Alm. Wiji Thukul, mengerti benar bahwa sikap dan sajak memiliki nafas lebih kuat daripada nama yang tersemat.
Tapi daripadanyalah kita mengerti, bahwa nama itu menjadi obituari oleh sebab mengambil tanggungjawab. Bukan karena lari.
Bila karya mempunyai nama dan nama identik dengan apa yang dibawanya, lalu siapakah yang akan bertanggungjawab pada karya-karya tanpa nama dan dengan apa-apa yang dibawa besertanya? Pada dinamika kepenulisan dalam dunia maya, keprihatinan ini ada, dan kita tidak bisa menutup mata.
Saat media massa masih mempunyai redaktur budaya, dan editor masih dimiliki penerbit sebelum sebuah buku naik cetak, lalu apa, atau siapa yang akan bertanggungjawab akan karya-karya ‘sastra maya’. Lebih-lebih tidak semua daripadanya mencantumkan nama. Lebih-lebih tidak semua komunitas kepenulisan maya memiliki sistem memadai yang mampu memberi, atau mengambil tanggungjawab akan materi-materi yang terpublikasi. Lebih-lebih tak jarang diantaranya hanyalah sekedar duplikasi dan tak jarang mengemulsi opini subjektif dengan tendensi negatif yang teramat tinggi.
Siapa dibalik siapa, siapa menyerang apa, siapa menjatuhkan siapa menjadi sangat brutal tanpa ada aturan yang mengawal.
Semakin murah dan mudahnya akses jejaring internasional sudah memungkinkan terjadinya komunikasi massa diluar nilai-nilai sosial yang wajar dan dulunya disepakati bersama. Kelompok-kelompok penulis, jurnal-jurnal komunitas, bahkan individu-individu yang serta merta mentahbiskan diri sebagai pemimpin para pujangga: semua ada, dikontekskan, dan dibalut secara maya. Lalu salahkan jika sinisme yang kemudian muncul seiring pertanyaan seberapa jauh ini semua bisa dipertanggungjawabkan secara legal?
Atau memang minta dimaklumi karena kita terpaksa tahu sama tahu bahwa semua ini hanyalah dagelan.
Semua orang bisa dan berhak menulis, tetapi celakanya tidak semua orang dibesarkan dalam lingkungan kepenulisan/kepenyairan yang memiliki kesadaran tanggungjawab yang tinggi. Menjadi sangat penting untuk dipersoalkan karena ini membuka celah seorang penulis tidak berani menopang buah pikirannya sendiri. Akan muncul pribadi-pribadi dengan keterampilan yang tinggi tetapi menghidupi jiwa-jiwa yang kerdil.
Andai Alm. Pramoedya saat ini masih hidup, mungkinkah ia di Utan Kayu sana, dibalik kacamata tebalnya, dibawah topi pet, mengetik-ngetik sebuah esai kecil, mengirimkannya pada sebuah komunitas di internet dengan menyamarkan diri sebagai Si Anu atau Si Ini?
*johanes.koen - LPM Podium ITTel Bandung - johanes.koen@yahoo.co.id
silahkan disebarkan bila Anda berkenan
Telisik Cerpen: Menunggu Kartu Pos dari Agus Noor
oleh : Khrisna Pabichara
Tulisan ini dimuat di Rubrik Jendela Halimun Harian Jurnal Bogor, pada 10 Mei 2009.
Ditulis untuk menelisik cerpen “Kartu Pos dar Surga” karya Agus Noor.
Cerpen ini termasuk nominator penerima Anugerah Sastra Pena Kencana Tahun 2000.
Dinukil dari buku “20 Cerpen Indonesia Terbaik 2009”, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, cetakan Pertama, Februari 2009, hal. 1-7
Semoga bermanfaat.
Menunggu Kartu Pos dari Agus Noor
oleh : Khrisna Pabichara
DULU, Ayah saya juga pelaut. Setiap bulan, dalam waktu yang tidak tetap, selalu ada kartu pos yang saya terima. Ayahku selalu berkirim kartu pos setiap kali kapalnya merapat di dermaga. Tentu saja, kartu pos itu sangat berarti bagi saya. Kartu pos itu, selain menjadi pengantar kabar, juga menjadi obat penawar rindu. Rindu pada sosok Ayah. Sekarang, Ayah saya sudah tiada. Sudah kembali pada cinta-Nya yang abadi. Namun, kartu-kartu pos yang dulu Ayah kirim, setiap singgah di dermaga, masih tersimpan di kamar saya. Dan, di hati saya.
Begitulah, Agus Noor mengantar saya pada gerbang kenangan. Kenangan tentang kartu pos. Kenangan tentang bagaimana berdebarnya menunggu kartu pos itu tiba. Kenangan pada senyum Pak Pos setiap singgah di halaman rumah dan teriakannya yang masih berasa.
Kenangan pada sosok Ayah yang selalu rajin berkirim kartu pos. Agus melakukannya dengan santun, lewat Kartu Pos dari Surga. Namun, bukan hanya kenangan itu yang menjadi pintu masuk saya guna menelisik cerpen “berbobot” ini. Melainkan “isi maknawi” yang dikemas begitu rapi dan sangat apik.
Ya, saya menemukan banyak nilai yang dengan fasih disembunyikan Agus lewat teknik bercerita yang mengalir lembut. Di antaranya, kejujuran.
Lewat cerpen ini kita akan dihadapkan pada kenyataan, betapa berat mempertahankan kejujuran. Betapa sulit mengajarkan kejujuran. Dan, betapa musykil menanamkan kejujuran itu. Selain itu, Agus menunjukkan kepada kita, selaku pembaca, bagaimana menjadi Ayah yang bijak. Ayah yang jujur.Belajar Bohong Belajar JujurBEGITU cerita dimulai, tugas pengarang adalah menjaga agar pembaca tidak berhenti membaca.
Kelebihan Agus, dalam Kartu Pos dari Surga, adalah langsung memulai cerita dengan memercikkan ketegangan. Saya langsung terseret pada ilusi, apa yang terjadi ketika seorang gadis kecil melompat serampangan dan menyeberang jalan sembarangan, tanpa memedulikan mobil atau kendaraan lain yang melintas? Ketegangan itu, sekaligus kunci pembuka yang ingin diberikan Agus bagi pembacanya. Bahwa pasti ada “sesuatu” yang membuat gadis kecil, Beningnya, berlari tergesa-gesa. Bahwa “sesuatu” itu pastilah istimewa atau sangat berarti bagi Beningnya, hingga dia mengabaikan keselamatannya. Dan, sesuatu itu adalah Kartu Pos. Kartu Pos dari Mamanya.
Mobil jemputan sekolah belum lagi berhenti. Beningnya langsung meloncat menghambur. “Hati-hati!” teriak sopir.Tapi gadis kecil itu malah mempercepat larinya. Seperti capung ia melintas halaman. Ia ingin segera membuka kotak pos itu. Pasti kartu pos dari Mama telah tiba. Di kelas, tadi, ia sudah sibuk membayang-bayangkan: bergambar apakah kartu pos Mama kali ini? Hingga Bu Guru karena terus-terusan melamun.Ketegangan itu tidak berhenti di sana. Alkisah, Beningnya bergegas menuju kotak surat. Membukanya, dan mencari kartu pos yang dicarinya. Tetapi, dia tak menemukannya. Agus dengan piawai memunculkan konflik internal dalam diri Beningnya. Ada dua analisis ringan yang mencuat di benak Beningnya. Pertama, mungkin saja Mamanya sedang sibuk sehingga lupa mengirim kartu pos. Atau, kedua, kartu pos itu sudah diambil oleh pembantu yang bekerja di rumahnya, Bi Sari.
Beningnya tertegun, mendapati kotak itu kosong. Ia melongok, barangkali kartu pos itu terselip di dalamnya. Tapi memang tak ada. Apa Mama begitu sibuk hingga lupa mengirim kartu pos? Mungkin Bi Sari sudah mengambilnya!
Mobil jemputan sekolah belum lagi berhenti. Beningnya langsung meloncat menghambur. “Hati-hati!” teriak sopir.Tapi gadis kecil itu malah mempercepat larinya. Seperti capung ia melintas halaman. Ia ingin segera membuka kotak pos itu. Pasti kartu pos dari Mama telah tiba. Di kelas, tadi, ia sudah sibuk membayang-bayangkan: bergambar apakah kartu pos Mama kali ini? Hingga Bu Guru karena terus-terusan melamun.Ketegangan itu tidak berhenti di sana. Alkisah, Beningnya bergegas menuju kotak surat. Membukanya, dan mencari kartu pos yang dicarinya. Tetapi, dia tak menemukannya. Agus dengan piawai memunculkan konflik internal dalam diri Beningnya. Ada dua analisis ringan yang mencuat di benak Beningnya. Pertama, mungkin saja Mamanya sedang sibuk sehingga lupa mengirim kartu pos. Atau, kedua, kartu pos itu sudah diambil oleh pembantu yang bekerja di rumahnya, Bi Sari.
Beningnya tertegun, mendapati kotak itu kosong. Ia melongok, barangkali kartu pos itu terselip di dalamnya. Tapi memang tak ada. Apa Mama begitu sibuk hingga lupa mengirim kartu pos? Mungkin Bi Sari sudah mengambilnya!
Beningnya pun segera berlari berteriak, “Biiikkk…, Bibiiikkk…”Dari sana muncul konflik eksternal, antara Beningnya dan Bi Sari.
Dari sana pula Agus mulai bertutur dengan santun, tanpa bermaksud menggurui, tentang bagaimana seharusnya menanamkan kejujuran pada seorang anak.
Kita ketahui bersama bahwa bagi setiap anak, hasrat bertanya untuk mengetahui sesuatu adalah hal yang lumrah dan wajar. Termasuk Beningnya. Bahkan, ada kecenderungan seorang anak yang enggan bertanya dianggap memiliki hambatan dalam perkembangan psikologisnya.
Dan, Bi Sari tidak menemukan cara yang tepat untuk menjelaskan kepada Beningnya, mengapa kartu pos itu belum juga datang.
“Ada apa, Non?”“Kartu posnya udah diambil bibik, ya?”Tongkat pel yang dipegangnya nyaris terlepas, dan Bik Sari merasa mulutnya langsung kaku. Ia harus menjawab apa? Bik Sari bisa melihat mata kecil yang bening itu seketika meredup, seakan sudah menebak, kenapa ia terus diam saja. Sungguh, ia selalu tak tahan melihat mata yang kecewa itu.Layaknya kata pepatah, malu bertanya sesat di jalan, Bi Sari lantas bertanya ke Marwan, majikannya. Setali tiga uang dengan Bi Sari, Marwan pun kelimpungan untuk mencari alasan sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan anaknya, Beningnya. Maka, muncullah banyak alasan demi menutupi keadaan sebenarnya.
Memang tak gampang menjelaskan semua pada anak itu. Ia masih belum genap enam tahun. Marwan sendiri selalu berusaha menghindari jawaban langsung bila anaknya bertanya, “Kok kartu pos Mama belum datang ya, Pa?”
“Mungkin Pak Posnya lagi sakit. Jadi belum sempet nganter kemari…”Lalu ia mengelus lembut anaknya.
Ia tak menyangka, betapa soal kartu pos ini akan membuatnya mesti mengarang-ngarang jawaban.Dan, seperti pernah dituturkan Amien Rais, setiap kebohongan pasti akan melahirkan kebohongan baru, demi menutupi kebohongan sebelumnya.
Agus pun mengolah cerita dengan cerdas. Ia mengungkap sisi kehidupan banyak orang tua yang sering menutupi kenyataan meskipun terpaksa harus “berbohong”. Sebenarnya, niat Marwan baik. Ingin membahagiakan anaknya. Namun, cara yang dilakukannya salah. Terbukti, Beningnya mengetahui bahwa kartu pos yang dia terima, keesokan harinya, bukan dari Mamanya.
Mobil jemputan belum lagi berhenti ketika Marwan melihat Beningnya meluncur turun. Marwan mendengar teriakan sopir yang menyuruhnya hati-hati, tetapi bocah itu telah melesat menuju kotak pos di pagar rumah. Marwan tersenyum. Ia sengaja tak masuk kantor untuk melihat Beningnya gembira ketika mendapati kartu pos itu. Kartu pos yang diam-diam ia kirim. Dari jendela ia bisa melihat anaknya memandangi kartu pos itu, seperti tercekat, kemudian berlarian tergesa masuk rumah.
Marwan menyambut gembira ketika Beningnya menyodorkan kartu pos itu.“Wah, udah datang ya kartu posnya?”
Marwan melihat mata Beningnya berkaca-kaca.“Ini bukan kartu pos dari Mama!” Jari mungilnya menunjuk kartu itu. “Ini bukan tulisan Mama…!”
Selain kemampuan memainkan tempo cerita, dimana Agus cukup lincah menjaga agar ketegangan demi ketegangan tetap terjaga dalam cerita, cerpen ini juga sangat mencerahkan. Saya teringat pesan Ma’ruf Mushthafa Zurayq (2003:97), seorang pakar pendidikan di Damaskus. Katanya, jika cinta tidak diajarkan di rumah, hampir tidak masuk akal mempelajarinya di mana pun. Namun, jika kebohongan tidak diajarkan di rumah, seorang anak bisa mempelajarinya di mana saja. Artinya, tidak perlu mengajarkan kebohongan di rumah, karena setiap anak dapat mempelajarinya di mana saja. Karena itu, ajarkanlah cinta.
Mengapa?
Karena pelajaran tentang cinta dan bagaimana mencinta, selayaknya diajarkan di rumah.
Menghargai AnakJIKA setiap orang tua mengetahui temuan Gardner tentang kecerdasan majemuk (multiple intelligences), pasti tidak akan ada orang tua yang “berniat” membohongi anaknya, baik sengaja maupun tidak sengaja. Karena, lambat laun, kebohongan itu akan diketahui anaknya.
Beningnya, gadis berusia enam tahun dan masih ikut play group itu, memang memiliki kecerdasan lebih. Terlihat dari kemampuannya mengenali tulisan Mamanya dan merekonstruksi daya ingat untuk menentukan bahwa kartu pos itu palsu.
Dan Marwan, orang tua yang terpaksa membesarkan anaknya sendirian setelah ditinggal istrinya, juga bukanlah orang tua yang kurang peduli, apalagi kurang cinta pada anaknya. Terlihat dari keinginan untuk menyenangkan hati anaknya, meski harus dengan mengirimkan kartu pos palsu.
Baik Beningnya maupun Marwan, sebenarnya, sama-sama cerdas.
Di sinilah letak kelebihan cerpen ini. Marwan, yang banyak akal itu, tetap saja menderita kebingungan seperti lumrahnya orang tua yang lain. Ia bingung bagaimana caranya menjelaskan tentang “kepergian” istrinya kepada beningnya, anaknya, yang baru berusia enam tahun. Tidak mudah menyampaikan berita kematian dan menuturkan segala hal tentang risiko kematian itu, apalagi kematian istrinya itu terjadi karena kecelakaan pesawat terbang dengan mayat yang tidak pernah ditemukan.
Barangkali memang harus berterus terang. Tapi bagaimanakah menjelaskan kematian pada anak seusianya?
Rasanya akan lebih mudah bila jenazah Ren terbaring di rumah. Ia bisa membiarkan Beningnya melihat Mamanya terakhir kali. Membiarkannya ikut ke pemakaman. Mungkin ia akan terus-terusan menangis karena merasakan kehilangan. Tetapi rasanya jauh lebih mudah menenangkan Beningnya dari tangisnya ketimbang harus menjelaskan bahwa pesawat Ren jatuh ke laut dan mayatnya tak pernah ditemukan.
Dalam penulisan fiksi, merunut pendapat Marion Dane Bauer (2005:112), pengarang berkuasa penuh atas perjalanan waktu. Seperti yang dilakukan Agus, tidaklah penting berapa jumlah kata yang kita gunakan untuk menuliskan berapa lama sebuah peristiwa terjadi. Melainkan, berapa penting peristiwa masa lalu bagi keutuhan cerita. Hal ini dilakukan Agus ketika menuturkan kenangan Marwan terhadap Ren, istrinya, yang sangat cinta pada kartu pos. Tidak seperti dirinya. Dulu, demi menerima sebuah surat, Marwan rela merekayasa sebuah kebohongan: mengirim surat yang ditujukan untuk diri sendiri.
Kembali ke cerpen ini, Agus tidak perlu banyak menggunakan kata untuk menggambarkan kekecewaan Beningnya ketika melihat kartu pos palsu. Hanya satu-dua kalimat. Namun, itulah kekuatannya. Seolah-olah hendak menunjukkan bahwa dengan jumlah kata yang minimal, pembaca dapat menemukan keasyikan yang maksimal.
Meskipun, saya sedikit terganggu dengan cara Agus menutup cerita. Tidak seperti cara Agus menutup cerpen Piknik atau Mata Mungil yang Meyimpan Dunia.
Demikianlah, Agus menutup cerpen ini dengan begitu mudah. Layaknya dongeng masa kecil, dimana kita kerapkali disuguhi kisah tentang peri atau bidadari yang suka menjadi penolong. Atau, sosok orang yang sudah meninggal, ternyata muncul lagi untuk memberi pesan atau menenangkan hati. Begitulah, sosok sang Mama muncul membawa sendiri kartu posnya dan memberikan jawaban kepada Beningnya tentang Pak Pos yang sedang sakit.
Entah, apakah untuk membenarkan kebohongan sang Ayah, ataukah untuk membahagiakan Beningnya.
“Tadi Mama datang,” pelan Beningnya bicara.
“Tadi Mama datang,” pelan Beningnya bicara.
“Kata Mama tukang posnya emang sakit, jadi Mama mesti nganter kartu posnya sendiri…”
Di luar konteks itu, penutup cerpen ini cukup mengejutkan, meskipun terasa sedikit mengganggu karena kemunculan sosok Ibu Ren. Namun, itu sah-sah saja dalam dunia kepengarangan.
Coba kita telisik.
Beningnya mengulurkan tangan. Marwan mendapati kain serupa kartu pos dipegangi anaknya. Marwan menerima dan mengamati kain itu. Kain kafan yang tepiannya kecokelatan bagai bekas terbakar.Tentu saja, penutup seperti ini menyisakan tanya. Bagaimana jika nanti Pak Pos sudah sembuh dan tak ada lagi kiriman kartu pos dari Mamanya?
Apa yang akan dilakukan oleh Maran, kelak, jika Beningnya kembali menanyakan kartu pos yang tak kunjung tiba? Dan, jika pembaca mengajukan rentetan tanya seperti itu, berarti Agus telah berhasil “menyeret” pembaca menjadi bagian dari ceritanya.
Pada AkhirnyaBEGITULAH, Agus dengan cerdas menyuguhkan kepada kita, setidaknya, dua hal.
Pertama, bagaimana menghadirkan kejutan demi kejutan agar ritme cerita bertahan.
Kedua, bagaimana semestinya mengarang cerpen dengan cerdas dan sarat keunikan gagasan, tanpa harus meninggalkan kesan menggurui atau sok tahu, layaknya Agus bertutur tentang cara mendidik anak.
Berangkat dari telaah ini, saya berniat untuk mulai bergegas melatih diri menulis.
Siapa tahu, kelak, saya bisa menambah kaya khazanah cerpen dan sastra Indonesia.
So, saya juga berharap, Anda pun berkenan melakukan hal sama.
Tidak cukup sesuatu jika hanya dibayangkan, itu pesan Henry Ford.
Karena itu, jika terbersit keinginan menjadi “pengarang tangguh”, ayo kita mulai sekarang.
Semoga bermanfaat.
☼☼☼
Parung, 30 April 2009 01:00
Telisik Cerpen: MENERIMA ”SUAP” KARYA PUTU WIJAYA
Oleh : Khrisna Pabichara
Tulisan ini dimaksudkan untuk menelisik cerpen “Suap” karya Putu Wijaya.
Cerpen ini termasuk nominator penerima Anugerah Sastra Pena Kencana Tahun 2009.
Dinukil dari buku “20 Cerpen Indonesia Terbaik 2009”, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Cetakan pertama, Februari 2009, hal. 118-128. Dipublikasikan pertama kali oleh Jawa Pos, 21 September 2008
MENERIMA ”SUAP” PUTU WIJAYA
Sebuah Telisik Ringan: Khrisna Pabichara
APAKAH menurut Anda, mengarang cerpen itu hanya merupakan batu loncatan untuk menulis bentuk sastra lain yang lebih serius? Apakah menurut Anda, cerpen hanya pelengkap kesusatraan belaka?
Apakah bagi Anda, menulis cerpen itu pekerjaan ringan, perintang waktu, tidak benar-benar serius, dan bisa dikerjakan dalam satu hingga dua jam?
Jika jawaban Anda untuk semua pertanyaan di atas adalah ”Ya”, Anda keliru. Sangat keliru. Cerpen bukan batu loncatan. Bukan pula ”pekerjaan” yang bisa diselesaikan dalam hitungan hari, apalagi jam. Bukan juga pekerjaan ringan yang dipilih untuk menghabiskan waktu luang. Saya tidak bermaksud menakut-nakuti.
Namun, persepsi yang salah tentang cerpen itu, harus segera dibenahi, dikembalikan pada jalur yang benar.
Perihal kedudukan cerpen, Budi Darma dalam Solilokui (1983) menyatakan bahwa pendapat sebagian pengarang yang menjadikan cerpen sebagai batu loncatan semata adalah sikap kepengarangan yang sangat keliru. Ketika muncul sinyalemen krisis sastra pada tahun lima puluhan, cerpen justru tampil sebagai pemegang hegemoni sastra Indonesia. Jadi, dalam hal proses penggarapan, cerpen itu dunia yang ”serius”. Bukan proyek main-main atau pekerjaan asal-asalan. Apalagi sekadar ban serep untuk membunuh waktu luang.
Salah seorang sastrawan yang mengarang cerpen dengan serius adalah Putu Wijaya.
Saya, sebagai bentuk apresiasi terhadap kepengarangannya, akan menelisik cerpen Suap, karya Putu. Cerpen ini dipublikasikan oleh Jawa Pos pada 21 September 2008. Selain itu, cerpen ini termasuk dalam 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2009 yang berhak dinominasikan untuk menerima Anugerah Sastra Pena Kencana 2009.
Mari kita bertualang di dunia Putu.
Budaya Suap di Negara KorupPERUT kerapkali merubuhkan bangunan moral: yang diyakini dalam hati sebagai kepercayaan, atau di kepala sebagai pikiran. Desakan kebutuhan bisa mengubah seorang yang idealis dan bermoral menjadi maruk dan tamak. Tuntutan perut bisa membutakan hati seseorang sehingga rela melakukan tindakan yang bertentangan dengan nuraninya. Itulah mengapa sehingga banyak agama menganjurkan puasa sebagai terapi ampuh untuk meredam ”godaan perut” itu.
Indonesia termasuk negara terkorup di dunia. Salah satu budaya ”buruk” yang mengakar kuat dalam negara korup ini adalah ”budaya suap”. Nyaris tak ada ruang di negeri ini yang bebas dari suap. Dari preman hingga politisi semuanya terjangkiti virus suap. Dari pengurus RT hingga pejabat tinggi negara bisa disuap. Dari seniman hingga pemuka agama biasa menerima suap. Maka, tidak heran jika Indonesia berada di garda terdepan negara dengan tingkat korupsi tertinggi.Fenomena apa yang paling sering kita saksikan melalui berbagai peristiwa sehari-hari? Media massa, khususnya surat kabar dan televisi, membuka banyak ruang informasi tentang pejabat yang tertangkap basah sedang ”disuap” atau ”menyuap”. Anehnya, mereka yang tertangkap itu sering tidak merasa risih. Atau, jengah. Mereka tampak biasa-biasa saja. Kita bandingkan dengan maling ayam yang tertangkap basah. Pasti bakal digebuki beramai-ramai, lalu di arak keliling kampung untuk dipermalukan sehina-hinanya.
Itulah yang dibidik Putu lewat cerpennya, Suap.
Sebagai warga negara, Putu meyakini ada yang harus dibasmi. Ya, budaya korup itu. Bandura (1989) meyakini bahwa perilaku seseorang dapat dipengaruhi oleh cara berpikirnya. Jika otak kita selalu dipenuhi oleh ”materi” dengan segala cara untuk mendapatkannya, tak peduli itu halal atau haram, maka perilaku kita membenarkan suap.
Meskipun, hati kita sebenarnya menyangkal keras.Coba telisik keadaan sekitar Anda. Urusan surat-surat di kantor Kelurahan saja acapkali menggunakan istilah ”jalur tol” atau ”jalur lambat”. Jalur tol, dengan bumbu suap, akan selesai dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Sedangkan jalur lambat, dengan biaya sebenarnya, akan dikerjakan dalam waktu yang selambat-lambatnya. Mau mendaftar jadi PNS, polisi, tentara, atau apa saja, banyak orang rela ”menyuap”. Mau masuk sekolah favorit saja sering menggunakan jasa ”amplop khusus”. Guna memenangkan tender, jurus ”menyuap” pun berlaku. Agar terbebas dari jerat hukum, suap bisa menjadi alternatif yang ampuh. Pejabat negara doyan suap. Anggota dewan pun menerima suap. Begitu juga dengan penegak hukum. Bahkan, seniman saja menerima suap, seperti dikisahkan Putu dengan cerdas. Dan, lugas.Wahyu itu Bernama Suap.
SUAP adalah gambaran bangsa yang limbung.
Suap adalah bukti ketidakberhasilan pembangunan mental.
Suap adalah lambang kegagalan para pemuka agama melanjutkan tugas ”kenabian”.
Suap adalah bukti nyata ketidakampuhan kurikulum moral di bangku sekolah.Intrik dunia suap, dengan balutan humor dan komedi penuh kejutan lewat alur yang berkembang tak terduga, membuat cerpen ini menarik untuk dibaca, dikaji, dan ditelisik. Begitu saya mulai membaca cerpen ini, saya merasa terhisap ke dalamnya. Larut. Hanyut.
Ayo kita coba membaca paragraf pertama.
Seorang tamu datang ke rumah saya. Tanpa mengenalkan diri, dia menyatakan keinginannya untuk menyuap. Dia meminta agar di dalam lomba melukis internasional, peserta yang mewakili daerahnya, dimenangkan. ”Seniman yang mewakili kawasan itu sangat berbakat,” katanya memuji, ”keluarganya turun temurun adalah pelukis kebanggaan wilayah kami. Kakeknya dulu pelukis kerajaan yang melukis semua anggota keluarga raja. Sekarang dia bekerja sebagai opas di kantor gubernuran, tetapi pekerjaan utamanya melukis. Kalau dia menang, seluruh dunia akan menolehkan matanya ke tempat kami yang sedang mengalami musibah kelaparan dan kemiskinan, karena pusat lebih sibuk mengurus soal-soal politik daripada soal-soal kesejahteraan. Dua juta orang yang terancam kebutaan, TBC, mati muda, akan terselamatkan. Saya harap Anda sebagai manusia yang masih memiliki rasa belas kasihan kepada sesama, memahami amanat ini. Ini adalah perjuangan hak asasi yang suci.
”Apa yang Anda bayangkan ketika membaca paragraf di atas? Apakah Anda menangkap gejala telah putusnya urat malu dari tamu sang tokoh cerita? Jika jawaban Anda ”ya”, berarti Anda merasakan hal sama seperti yang saya rasakan.
Tanpa mengenalkan diri, dia menyatakan keinginannya untuk menyuap. Kalimat ini cerdas. Kalimat ini merupakan pernyataan tegas bahwa ”budaya suap” bukan lagi sesuatu yang tabu, yang harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
Apa tujuan tamu itu menyuap? Dia meminta agar di dalam lomba melukis internasional, peserta yang mewakili daerahnya, dimenangkan. Kalimat ini menjelaskan kenapa, mengapa, dan untuk apa tamu itu menyuap. Latar historis keluarga pelukis yang ingin dimenangkannya menjadi argumen pemikat. Belum lagi jika ditambah dengan latar belakang ”kemelaratan” keluarga pelukis itu. Dan, paragraf pembuka itu ditutup dengan pernyataan sang tamu yang ”menyinggung” kemuliaan hati sang tokoh. Sang tokoh, digambarkan Putu sebagai ”Saya”, akhirnya berada di simpang jalan.
Dalam dilema, dalam keraguan. Ia berusaha keluar dari benturan nuraninya dengan fenomena realitas yang kembali meletakkan pelaku korup sebagai pesakitan. Ia gamang.
Saya langsung pasang kuda-kuda.
”Maaf, tidak bisa.Tidak mungkin sama sekali. Juri tidak akan menjatuhkan pilihan berdasarkan kemanusiaan, tetapi berdasarkan apakah sebuah karya seni itu bagus atau tidak.”
”Tapi, bukankah karya yang bagus itu adalah karya yang membela kemanusiaan dan bermanfaat bagi manusia?”
”Betul. Tapi, meskipun membela kemanusiaan, kalau tidak dipersembahkan dengan bagus atau ada yang lebih bagus, di dalam sebuah kompetisi yang adil, tetap tidak akan bisa menang.”
Søren Kierkegaard (1847) menyatakan, pilihan adalah sesuatu yang sangat menentukan kandungan kepribadian. Dalam pilihan, kepribadian membenamkan diri pada apa yang dipilihnya. Dan, jika ia tidak memilih maka berarti ia telah menyia-nyiakan peluang. Putu, secara sadar, bermain di ruang psikologis itu.
Menguak sisi humanis seorang seniman, dengan kondisi ekonomi yang memprihatinkan, seperti layaknya seniman pada umumnya. Sang tokoh dibawa ke tempat paling gelisah untuk menentukan pilihan. Jujur atau serong. Jujur dapat keropong, serong bakal kenyang.Sebuah penggambaran karakter tokoh yang khas dan manusiawi. Seperti lumrahnya kepribadian seniman, sang tokoh dibuat dilematis.
Pada satu sisi, seperti tutur Hume (1755), sesuatu yang agung bukanlah menjadi ini atau itu, melainkan menjadi diri sendiri. Namun, bagaimana jika ”perut” menuntut yang lain? Bagaimana jika dapur butuh subsidi agar tetap ada aroma masakan yang menyengat hidung? Dan, setiap manusia pasti memiliki sisi lemah. Terutama, ketika berbicara uang. Termasuk ”saya”, tokoh rekaan Putu.
Lalu dia mengeluarkan sebuah cek kosong yang sudah ditandatangani. Saya langsung merasa tertantang dan terhina. Tetapi entah kenapa saya diam saja. Kilatan cek itu membuat saya beku.
Lalu dia mengeluarkan sebuah cek kosong yang sudah ditandatangani. Saya langsung merasa tertantang dan terhina. Tetapi entah kenapa saya diam saja. Kilatan cek itu membuat saya beku.
”Kalau wakil kami menang, Bapak boleh menuliskan angka berapa pun di atas cek kontan ini dan langsung menguangkannya kapan saja di bank yang terpercaya ini.”
Saya bergetar. Itu sebuah tawaran yang membuat syok.Siapa yang tidak tergoda jika berada dalam posisi seperti ”saya”?
Maka, terjadilah kontradiksi dalam hati. Rasa muak atas ketidakberdayaan memenuhi kebutuhan keluarga, serta godaan rupiah yang berada di depan mata, memaksa ”saya” pada keharusan memilih. Dan, ia sekarang punya peluang menjadi orang kaya. Tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga. Atau, siang-malam memeras pikiran. Tinggal mengangguk. Maka, ia bisa berucap: selamat tinggal kemelaratan.
Bagi Marion Dane Bauer (2005), ada tiga fungsi penting dialog dalam sebuah cerita, yakni
(1) dialog itu mengungkapkan karakter tokoh,
(2) memberikan informasi kepada pembaca,
dan (3) menggerakkan cerita. Putu, dengan cermat, memenuhi ketiga fungsi penting dialog itu sekaligus.
Coba kita telisik lagi.
Saya memang tidak percaya. Tapi saya tidak ingin memperlihatkannya.
”Anda tidak percaya pada kami?”
”Bukan begitu.”
”Jadi bagaimana? Apa Anda lebih suka kami datang dengan uang tunai? Boleh. Begitu? Berapa yang Anda mau?”
Saya tak menjawab.
”Satu miliar? Dua miliar? Lima miliar?”
Saya terkejut. Bangsat. Dia seperti menebak pikiran saya.
Dialog tokoh tamu, pada petikan cerpen di atas, memperlihatkan karakter yang progresif, yang kukuh, yang tidak mau berhenti sebelum semua keinginannya terpenuhi. Sementara dialog tokoh ”saya”, menunjukkan adanya idealisme, sekaligus sifat peragu, tidak tegas.
Tentulah Putu telah melewati serangkaian riset yang menggerakkan hatinya untuk menulis cerpen ini. Dengan begitu, Putu ingin berbagi tentang potongan realitas. Dimana seniman sebagai pihak yang paling getol menyuarakan ”pemberontakan” terhadap perilaku korup dan suap, justru diletakkannya sebagai tokoh yang rentan suap.
Apakah ini sekadar imajinasi?
Jawaban saya: setengah ya setengah tidak.
Mengapa?
Hal seperti ini bisa saja terjadi.
Begitulah, Putu memainkan bagian paling sensitif dalam diri manusia, hati.Sebuah Kegilaan dan KeliaranAPAKAH tokoh saya tergoda bujuk-rayu tamunya itu? Apakah ia akhirnya menerima suapan itu? Bukan Putu namanya jika tidak piawai membuat kelok, tanjakan atau tikungan tajam dalam cerpennya. Begitu pula dalam Suap.
Dengan mahir, Putu menyesap saya ke dalam ruh cerita.
Tanpa terasa. Putu menciptakan konflik dengan kemasan yang lucu, yang bisa membuat kita kaget, sekaligus tertawa terbahak, atau malah tercenung. Butuh keterampilan khusus melakukan hal seperti itu.
Saya memberi isyarat untuk menolak. Tapi orang itu terlalu sibuk, mungkin sengaja tidak mau memberi saya kesempatan. Waktu itu anak saya yang baru berusia 4 tahun berlari dari dalam. Dia memeluk saya. Saya cepat menangkapnya. Tapi, sebelum tertangkap, anak itu mengubah tujuannya. Dia mengelak dan kemudian mengambil kedua amplop yang menggeletak di atas meja.”Ade, jangan...!”Tapi amplop itu sudah dilarikan keluar.Seandainya Anda yang mengarang cerpen ini, apakah Anda akan menulis sama seperti imaji liarnya Putu? Tentulah berbeda. Karena Anda dan Putu pastilah berbeda. Tapi kita harus mengakui kepiawaian Putu dalam membelokkan cerita. Tidak terduga. Tidak mudah tertebak. Dan, saya yakin, Anda pasti memiliki kekuatan yang sama, jika terus berlatih. Sebagaimana Putu berlatih.
Saya memberi isyarat untuk menolak. Tapi orang itu terlalu sibuk, mungkin sengaja tidak mau memberi saya kesempatan. Waktu itu anak saya yang baru berusia 4 tahun berlari dari dalam. Dia memeluk saya. Saya cepat menangkapnya. Tapi, sebelum tertangkap, anak itu mengubah tujuannya. Dia mengelak dan kemudian mengambil kedua amplop yang menggeletak di atas meja.”Ade, jangan...!”Tapi amplop itu sudah dilarikan keluar.Seandainya Anda yang mengarang cerpen ini, apakah Anda akan menulis sama seperti imaji liarnya Putu? Tentulah berbeda. Karena Anda dan Putu pastilah berbeda. Tapi kita harus mengakui kepiawaian Putu dalam membelokkan cerita. Tidak terduga. Tidak mudah tertebak. Dan, saya yakin, Anda pasti memiliki kekuatan yang sama, jika terus berlatih. Sebagaimana Putu berlatih.
Jika ada aturan dalam menulis cerpen, pesan Carmel Bird (1988), aturannya sangat sederhana: ”jangan membosankan”.
Di lain pihak, Clarissa Pinkola Estes berpendapat agak nyeleneh. Katanya, keliaranlah, bukan kepatutan yang menjadi urat nadi, yang menjadi inti, yang menjadi batang otak, dari penulisan kreatif.Putu memakai kedua pendapat itu, menulis cerita yang tidak membosankan dan keliaran imajinasi. Kemunculan sang anak, seperti disengaja sebagai efek komedi, sekaligus solusi ”bijak” yang menjebak tokoh utama. Memaksa sang tokoh berada dalam situasi yang semakin tidak menguntungkan. Paragraf di bawah ini akan membuktikan betapa lihai Putu memainkan keliaran imajinya.
Terlambat.
Anak saya melemparkan kedua amplop itu ke dalam kolam. Kedua-duanya. Ketika saya tangkap, dia diam saja. Matanya melotot menentang mata saya. Seakan-akan dia marah, karena bapaknya sudah mengkhianati hati nurani. Padahal saya sama sekali tidak bermaksud menerima suapan itu. Saya hanya memerlukan waktu dalam menolak. Saya kan belum berpengalaman disuap. Apalagi menolak suap. Itu memerlukan keberanian mental. Baik menerima maupun menolaknya.Kedua amplop itu langsung tenggelam. Sudah jelas sekali bagaimana beratnya. Perasaan saya rontok. Dengan menghilangkan akal sehat saya lepaskan anak saya, lalu terjun ke kolam. Dengan kalap saya gapai-gapai. Tapi kedua amplop itu tak terjamah.Para tetangga muncul dan bertanya-tanya. Heran melihat saya yang biasa jijik pada kolam yang sering dipakai tempat buang hajat besar itu, sekarang justru menjadi tempat saya berenang. Bukan hanya berenang, saya juga menyelam untuk menggapai-gapai. Tidak peduli ada bangkai ayam dan kotoran manusia, amplop itu harus ditemukan. Dengan berapi-api saya terus mencari. Kalau kedua amplop itu lenyap, berarti saya sudah makan suap. Hampir setengah jam saya menggapai-gapai menyelusuri setiap lekuk dasar kolam. Tak seorang pun yang menolong. Semua hanya memperhatikan kelakuan saya. Saya juga tidak bisa menjelaskan: bahaya.
Hare gene, siapa yang tidak perlu uang?
Ya, amplop itu harus ditemukan. Mau tidak mau. ”Saya” harus bertanggung jawab. Itu risiko.Selain karena transaksi suap-menyuap belum sah atau belum ijab-qabul, juga karena amplop itu berisi uang. Materi yang bisa mengangkat keluarga ”saya” ke atas garis kemiskinan. Tapi, amplop itu tak ditemukan. Di sinilah terlihat kepiawaian Putu memainkan bahasa. Lewat bahasa sederhana, sangat bersahaja, tanpa banyak sentuhan metafora, tapi sukses menyampaikan pesan. Sukses mengusung ”kisah” yang hendak didongengkan.
Saya termenung. Apa pun yang saya lakukan sekarang, saya sudah basah. Tak menolak dengan tegas, berarti saya sudah menerima. Ketidak-mampuan saya untuk tidak segera menolak karena kurang pengalaman, tak akan dipercaya. Siapa yang akan peduli. Masyarakat sedang senang-senangnya melihat pemakan suap digebuk. Kalau bisa mereka mau langsung ditembak mati tanpa diadili.Lantas, bagaimana dengan amplop itu? Putu memasukkan potongan peristiwa baru ke dalam cerita. Seorang anak tetangganya meneruskan misinya mencari amplop itu di kolam. Dan, ia menemukan amplop itu. Dengan penuh sukacita, ”saya” memberi upah kepada bocah itu selembar uang lima puluh ribu, tapi istrinya protes. Lalu menukarnya dengan tiga lembar uang ribuan. Sebuah proses menuju klimaks yang apik. Dan, asyik. Saya berasa sedang di ayunan, naik-turun.Beruntung pula, ternyata peserta lomba yang dimintakan dukungan oleh penyuap itu, keluar sebagai pemenang. Bak ketiban durian runtuh. Selain memang pantas menang, mayoritas juri lain juga mendukung peserta dari daerah itu. Entah, apakah mereka juga disuap seperti ”saya”, tak peduli. Yang penting, ”saya” tidak harus mengembalikan dua amplop berisi uang itu.Selama ini, ”saya” memperlakukan kedua amplop itu layaknya berhala. Disayang, dirawat, dijaga, dan dilindungi. Alasannya karena ”saya” menganggap amplop itu sebagai kunci memasuki masa depan.
Saya termenung. Apa pun yang saya lakukan sekarang, saya sudah basah. Tak menolak dengan tegas, berarti saya sudah menerima. Ketidak-mampuan saya untuk tidak segera menolak karena kurang pengalaman, tak akan dipercaya. Siapa yang akan peduli. Masyarakat sedang senang-senangnya melihat pemakan suap digebuk. Kalau bisa mereka mau langsung ditembak mati tanpa diadili.Lantas, bagaimana dengan amplop itu? Putu memasukkan potongan peristiwa baru ke dalam cerita. Seorang anak tetangganya meneruskan misinya mencari amplop itu di kolam. Dan, ia menemukan amplop itu. Dengan penuh sukacita, ”saya” memberi upah kepada bocah itu selembar uang lima puluh ribu, tapi istrinya protes. Lalu menukarnya dengan tiga lembar uang ribuan. Sebuah proses menuju klimaks yang apik. Dan, asyik. Saya berasa sedang di ayunan, naik-turun.Beruntung pula, ternyata peserta lomba yang dimintakan dukungan oleh penyuap itu, keluar sebagai pemenang. Bak ketiban durian runtuh. Selain memang pantas menang, mayoritas juri lain juga mendukung peserta dari daerah itu. Entah, apakah mereka juga disuap seperti ”saya”, tak peduli. Yang penting, ”saya” tidak harus mengembalikan dua amplop berisi uang itu.Selama ini, ”saya” memperlakukan kedua amplop itu layaknya berhala. Disayang, dirawat, dijaga, dan dilindungi. Alasannya karena ”saya” menganggap amplop itu sebagai kunci memasuki masa depan.
Kemudian, bagaimana penutup kisah ini?
Jangan harap kisah ini berakhir seperti tebakan kita, bahagia. Jangan pula menduga tokoh ”saya” mengembalikan amplop itu, karena tanggung jawab moral.
Lantas, apa yang terjadi?
Tangan saya gemetar. Saya sambar amplop itu dan intip isinya. Kemudian dengan bernafsu, barang yang sempat saya berhalakan itu saya kupas. Darah saya seperti muncrat keluar semua ketika menemukan di dalamnya bukan uang tetapi hanya tumpukan kertas-kertas putih.Dengan kalap saya terkam bungkusan kedua dan preteli. Sama saja. Isinya juga hanya kertas. Di situ mata saya mulai gelap. Ini pasti perbuatan tetangga jahanam itu. Dia temukan amplop itu, lalu gantikan isinya, baru dia suruh anaknya supaya menyerahkan kepada saya. Bangsat. Kalau tidak begitu, bagaimana mungkin dia bisa meningkatduakan rumahnya dan membeli motor? Saya S2, dia SMP saja tidak tamat.Dua paragraf yang ciamik. Dahsyat.
Tangan saya gemetar. Saya sambar amplop itu dan intip isinya. Kemudian dengan bernafsu, barang yang sempat saya berhalakan itu saya kupas. Darah saya seperti muncrat keluar semua ketika menemukan di dalamnya bukan uang tetapi hanya tumpukan kertas-kertas putih.Dengan kalap saya terkam bungkusan kedua dan preteli. Sama saja. Isinya juga hanya kertas. Di situ mata saya mulai gelap. Ini pasti perbuatan tetangga jahanam itu. Dia temukan amplop itu, lalu gantikan isinya, baru dia suruh anaknya supaya menyerahkan kepada saya. Bangsat. Kalau tidak begitu, bagaimana mungkin dia bisa meningkatduakan rumahnya dan membeli motor? Saya S2, dia SMP saja tidak tamat.Dua paragraf yang ciamik. Dahsyat.
Putu sukses menggiring pembaca ke tikungan tajam itu. Kemudian menyodorkan sebuah kenyataan baru. Pendapat bahwa orang melarat dan berpendidikan rendah pasti jujur, sebagaimana sering ditonjolkan sinetron belakangan ini, ternyata tidak sepenuhnya benar.
Selalu ada sisi baik dan buruk pada semua lapisan masyarakat.
Putu lalu menutup Suap dengan hebat.
Tokoh ”saya” diciptanya sebagai karakter yang tidak legowo. Yang tidak bisa menelan kekecewaannya begitu saja. Malah bertindak anarkis, yakni menghujani rumah baru tetangganya dengan batu. Termasuk motor barunya. Sekolah Anti KorupsiSAYA, sebagai seorang pemerhati pendidikan, sadar bahwa pembentukan karakter merupakan bagian penting kinerja pendidikan. Namun, tidak berarti bahwa harus kita lakukan secara instan dan terburu-buru.
Cerpen ini mengetuk nurani kita. Betapa banyak nilai moral yang sudah bergeser. Tentu saja, kita tidak bermaksud mewariskan kebobrokan itu pada generasi berikutnya. Akan tetapi, tidak pula lantas kita paksakan kurikulum reaktif, sebagai upaya menangkal perilaku suap-menyuap itu. Kurikulum yang hanya menyentuh permukaan saja. Dangkal. Tidak menyentuh hati. Tidak menyesap ke kedalaman sanubari.
Wacana pembentukan Sekolah Anti Korupsi, kantin kejujuran, atau Pendidikan Anti Korupsi sebagai pengganti PPKn, perlu digali dan dikaji lebih mendalam. Bukan berarti menolak, melainkan menyarankan agar pendidikan tidak terjerembab pada kedangkalan. Segera kita benahi moral bangsa ini secara santun dan bijak.Cerpen ini, memberi lampu merah bagi kita.
Sesungguhnya, kita masih dapat membicarakan cerpen Suap ini lebih jauh. Kita bisa menelisik sisi imajinasinya, seperti Julien De La Mettrie menempatkan perkara imajinasi sebagai sesuatu yang vital. Bisa juga menggunakan pendekatan fenomenologis seperti sudut pandang Rudolf Otto. Bahkan, kita bisa menggunakan pendekatan arkatipe (tipe induk) yang dengan leluasa memanfaatkan berbagai disiplin ilmu untuk menguak lebih dalam dan lebih luas kekayaan teks yang dikandung cerpen ini.Oleh karena itu, jika Anda butuh hiburan atau bacaan bermutu, cerpen ini layak menjadi pilihan. Jika Anda ingin mengasah kemampuan mengarang, cerpen ini patut jadi bahan perbandingan.
Semoga tulisan ini menginspirasi Anda.
☼☼☼
Parung, 2 Mei 2009 11:30


